Showing posts with label ide. Show all posts
Showing posts with label ide. Show all posts

07 December 2007

"Menulis" Sebelum Menulis

photo by wahyu hs

Secara tumben (???), Komo diminta menulis skenario FTV oleh produser kenalannya. Sebagai penulis muda yang baru merintis karir, ia menyambutnya dengan semangat seorang Gen-X yang selalu heboh. Dia menyanggupi menyelesaikan naskah sepanjang 72 halaman itu dalam tempo empat hari. Mungkin, inilah batu loncatan karirku sebagai penulis, jawaban dari doa-doaku yang tak pernah putus, pikirnya. Tuhan memang menjawab doa Komo dengan memberikan job menulis, tapi ternyata Komo sendiri tidak meresponnya dengan layak. Apa yang terjadi?



Ini sudah hari ketiga Komo hanya duduk memelototi komputer sambil meremas rambut. Ibunya sampai khawatir dan berniat membawanya ke dokter, khawatir anak kesayangannya terkena serangan angin duduk atau apalah yang kira-kira mirip. Tinggal satu hari lagi menjelang deadline dan Komo belum menemukan ide cerita yang membuatnya bergerak menulis. Serba mampet dan macet. Setiap kali dapat satu paragraf, setiap kali pula dihapusnya sendiri. Profesi menulis mendadak jadi kutukan untuknya.
Menginjak hari ketujuh, sang produser FTV habis kesabaran dan memutuskan memakai naskah penulis lain. Kemana si Komo? Main PS di game zone bareng anak-anak sekolahan karena nggak tahu harus gimana lagi.

Sama dengan profesi lain, menulis butuh sistematika, metode, dan etos kerja serius. Salah satu unsur utama dari proses karang-mengarang adalah "ide". Menulis dengan dan tanpa ide akan membedakan antara seorang penulis dengan juru ketik. Penulis skripsi tentu berbeda dengan tukang ketik skripsi. Masalahnya, ide seringkali ngumpet ketika dibutuhkan. Bagaimana akan menulis tanpa kehadiran ide? Itu artinya, tidak tahu apa yang mesti ditulis.

"Itulah, sudah lapar baru cari kerja," kata ustadz saya suatu saat. Saya menghubungkan perkataan itu dengan etos kerja kita. Kita memang sering berdalih "kreativitas muncul di saat-saat kritis". Saya sendiri pernah mengalami keberuntungan seperti itu, tapi jarang. Dan itu tidak bisa diandalkan selalu ada. Justru dalam keadaan mumpung lagi kenyang dan bertenaga, kita sibuk mencari pekerjaan atau mempersiapkannya.

Buatlah rencana, konsep, atau sekedar coret-coretan, meskipun belum ada produser atau penerbit yang memesannya. Bukankah pekerjaan penulis adalah menulis? Dalam keadaan santai tanpa deadline, kita akan lebih bebas mengerahkan imajinasi dan kreativitas. Kita akan punya waktu untuk melakukan evaluasi dan revisi atas karya kita.

Yang juga penting adalah kebiasaan mencatat semua ide yang sering muncul tiba-tiba. Walaupun ide itu mungkin sekedar potongan dialog, adegan, kalimat bijak, karakter, script iklan, lirik, puisi, jargon, sinopsis, atau bahkan sekedar judul, catat. Sangat dianjurkan kita punya buku kecil untuk mencatat semua itu secara cepat dan mudah. Jangan mengandalkan daya ingat, karena dalam kehidupan jaman sekarang, terlalu banyak hal yang menuntut penggunaan memori di kepala kita. Saya punya beberapa ikat sobekan kertas dan buku kecil yang berisi segala macam ide, termasuk ide-ide yang tidak mungkin atau tidak layak diwujudkan. Pada waktu-waktu tertentu, saya salin semuanya di komputer, saya pilah berdasarkan kategori-kategori tertentu. Dan bila saatnya tiba, file-file itu akan sangat berguna membantu kita mulai menulis, tanpa perlu meremas rambut tiga hari tiga malam seperti si Komo. Beberapa kali saya "diselamatkan" oleh file-file kecil itu ketika sedang kesulitan menggarap dialog, menyusun plot, atau ide cerita.

Intinya adalah, kita akan selalu punya rencana dan nggak pernah mati gaya. Profesi menulis butuh disiplin tinggi dan kemauan kuat plus kreativitas yang didukung wawasan. Pekerjaan yang nggak main-main ini jangan dibiarkan macet hanya karena tanpa ide. Padahal, justru ide itu langkah awal. Penulis profesional biasanya mempersiapkan diri untuk menghadapi masa-masa tanpa job, tapi penulis profesional juga harus mempersiapkan diri menghadapi banjir order. Kesempatan emas itu bisa hilang hanya karena kita gagal menemukan ide di saat-saat yang dibutuhkan. Sayang, kan?

Akhirul kata, apakah itu semua sudah cukup? Belum. Kita akan memasuki tahapan pengembangan ide, menyusun sinopsis, riset, dan seterusnya hingga hasil akhir. Kapan-kapan saja kita bahas. (***)
Baca selengkapnya...

10 November 2007

Televisi vs Pemirsa; Siapa yang Mendikte?

photo by wahyu hs

Acara heboh "Empat Mata" tidak berawal dari permintaan penonton televisi. Tahu-tahu acara itu dirilis oleh produsernya dan Tukul melejit dengan mantra populernya: "kembali ke laptop". Program ini menjadi talk show paling favorit selama beberapa bulan dengan pemasukan iklan yang luar biasa. Sebelum "Empat Mata", siapa yang peduli dengan Tukul? Berani sekali produser memasang pelawak yang seakan tak kunjung melejit karirnya. Acara ini muncul di tengah hebohnya era sinetron-sinetron remaja.

Beberapa tahun sebelumnya, sinetron sejenis "Rahasia Ilahi", "Hidayah", dan sebagainya, merajai beberapa stasiun televisi kita sebagai program unggulan. Apakah sinetron-sinetron tersebut merupakan hasil diskusi atau pendiktean dari pemirsa? Setahu saya bukan. Itu inisiatif produser dan tim kreatifnya.


Acara-acara berita selama ini cenderung monoton; baik di TVRI maupun swasta. Kemudian, muncul program berita khusus bertopik berita-berita kriminal. Maka (saya lupa siapa yang memulai) muncullah siaran berita "Patroli", "Buser", dan sejenisnya. Ini menjadi tontonan menarik dan sangat disukai pemirsa. Kurang-lebih berbarengan dengan trend itu, muncul trend yang lain. Infotainment. Dan para penggagas program-program tersebut, setahu saya, nggak pernah diusuli oleh penonton kecuali oleh dirinya sendiri. Apalagi didikte.

Lalu, di era sinetron penuh siksa, azab, dan ABG pacaran, muncullah serial "Kiamat Sudah Dekat" yang tampil di luar tema biasanya. Sempat meraih rating tertinggi dengan pemasukan iklan spektakuler (kurang-lebih 3o spot per commercial break), bahkan jadi tontonan Presiden, sinetron ini memaksa penonton menoleh ke arahnya sampai tiga musim.

Masih ingat ledakan monumental film "Ada Apa dengan Cinta?" dan "Sherina"? Setahu saya, film-film itu diproduksi bukan karena adanya sejuta tanda tangan masyarakat or whatever.

Film "Nagabonar Jadi 2". Bahkan tak ada yang pernah membayangkan akan muncul sekuelnya, apalagi setelah meninggalnya Asrul Sani, sang kreator.

Kasus terakhir, sinetron "Para Pencari Tuhan" diluncurkan justru di tengah trend "tradisi" variety show di malam-malam bulan Ramadhan yang sudah berjalan bertahun-tahun. Langsung merebut pangsa pemirsa hampir 50 persen, sinetron ini pun bukan hasil pendiktean trend atau pemirsa.

So, masih layakkah kita untuk meyakini bahwa masyarakat (pemirsa) merupakan satu-satunya pihak yang melakukan pendiktean terhadap film dan sinetron kita? Ketika masyarakat berteriak "Kami hanya ingin menonton melodrama!", misalnya, itu bukan indikasi pendiktean. Itu, menurut saya, hanyalah sekedar permintaan pasar yang wajar terhadap hal-hal yang sedang disukai. Ketika pasar sedang gandrung DVD bajakan, apakah itu berarti kios sembako harus tutup dan merubah jualannya? Bintang jatuh selalu menjadi momen indah, tapi jangan lupakan matahari yang setiap hari menyinari kita. Sedangkan bintang jatuh tak pernah menjadi satu-satunya benda langit yang paling menakjubkan. Begitu pula halnya apa yang kita sebut "permintaan pasar".

Para kreatorlah yang melakukan pendiktean kebutuhan masyarakat. Pesawat radio, televisi, komputer, telepon, handphone, film cerita, koran, liga sepakbola dunia, mobil, satelit, pesawat terbang, dan seterusnya ... semuanya ditemukan dan didiktekan oleh para kreator. Masyarakat tinggal terima jadi dengan status "konsumen". Masyarakat bersedia menjadi konsumen produk-produk budaya manusia ketika merasakan manfaatnya. Minimal, merasakan kesenangannya. Tak peduli apakah itu produk baru atau lama. Kenal biskuit legendaris "Khong Guan"? Itu salah satu merek biskuit lawas banget dari jaman kakek-nenek kita masih kecil dan masih beredar sampai hari ini. Bahkan disain blek-nya berikut ilustrasi gambarnya sama sekali nggak dirubah, meskipun merek-merek baru bertebaran dengan kemasan yang lebih "in". "Khong Guan" sudah menciptakan fanatisme komunitas tersendiri dan turut "mendikte" konsumsi snack keluarga Indonesia selama beberapa generasi.

Menurut saya, masyarakat (dalam hal ini, pemirsa) cukup toleran menerima asupan apapun di layar lebar maupun layar kaca. Tuntutannya hanya satu: menarik, syukur-syukur baik.

Jadi, siapa sebetulnya yang bermasalah? Gagasan besar dan baik, bahkan penting, seringkali gagal menjadi kebutuhan masyarakat hanya karena masalah sepele: tampil tidak menarik. Untuk menjadi menarik, jelas, butuh kreativitas tinggi. I hope we have found the real problem now.
Baca selengkapnya...

30 October 2005

Misteri Datangnya Ilham

Bagaimana sih cara Anda mencari ilham?" Pertanyaan macam ini sering banget dilontarkan kepada para penulis atau pengarang. Biasanya kujawab, "Yah, saya mencarinya melalui perenungan ... bla bla bla ...." Tapi lama-lama kupikir jawaban itu nggak seratus persen tepat. Betulkah aku mencari ilham dan kemudian mendapatkannya? Kenapa aku sering mendapatkan ilham justru di saat-saat yang tidak kuinginkan; misalnya lagi bengong atau menjelang tidur, ketika lagi baca brosur wisata, atau bahkan di saat pertemuan keluarga yang nggak ada hubungannya dengan tulis-menulis. Melihat wajah sopir bis kota, bisa mendatangkan ilham. Aku pun kerap menangkap ilham di tumpukan sampah, atau ketika mendengar ibu-ibu dan tukang sayur lagi ngerumpi.


Aku baru menyadari bahwa kayaknya "makhluk" bernama ilham itu sering datang secara random. Ngacak. Bisa dihitung dengan jari berapa jumlah ilham yang kudapatkan dengan cara "sengaja" melalui perenungan khusus dan terfokus. Ilham-ilham itu seperti kiriman yang tidak terjadwal, seperti diberikan begitu saja oleh "seseorang". Siapa "orang" itu? Karena nggak ada manusia yang melakukan aktivitas telepati kepadaku, maka aku langsung menuding satu-satunya pihak yang bertanggung jawab terhadap pengiriman ilham itu adalah ... Allah. Ini asumsiku.

Aku kemudian berkesimpulan bahwa ilham, bagi seorang penulis, adalah rejeki yang diberikan Allah, seperti rejeki yang Dia berikan kepada profesi lainnya. Allah memberikan penumpang kepada para sopir angkutan; Allah mengirimkan pembeli kepada para pedagang; Allah menebarkan cacing dan plankton kepada ikan-ikan; Allah memberikan bangkai kepada burung-burung nasar. Tapi, semua yang diberikan itu tidak akan sampai ke mulut kita jika kita tidak mau membuka mulut. Sopir yang seharian hanya parkir di bawah pohon nggak akan mendapat penumpang sebanyak sopir yang rajin menyelusuri trayeknya. Pedagang bermuka ketus akan dijauhi pembeli.

Begitu pula dengan penulis. Ilham, aku percaya banget, sudah berkeliaran di atas kepala kita. Dia baru masuk ke dalam kepala kita jika pikiran dan hati kita selalu terbuka setiap saat. Pikiran dan hati yang mampet akan sulit dimasuki ilham. Pikiran dan hati yang keruh akan sulit melihat penampakan ilham. Apa yang membuatnya mampet dan keruh? Nggak ada lain, yakni pikiran dan hati yang nggak dilatih untuk terbuka, yang selalu dibiarkan tertutup oleh kepicikan, keterasingan, dan ketidakpedulian akan kehidupan.

Obatnya cuma satu: memperluas wawasan dan memperdalam pemahaman. Nggak hanya dengan buku atau jadi kutu perpustakaan, tapi juga interaksi aktif dengan kehidupan itu sendiri. Untuk menjadi penulis nggak cukup hanya bergaul dengan sastrawan, tapi juga dengan tukang bajaj, pramugari, Pak RT, anak-anak sekolahan, pengusaha, bayi, polisi, orang pasar, politikus, dengan orang kaya, dengan orang miskin, dan sebagainya. Percayalah, mereka akan memberikan banyak ilham tanpa kita perlu ngotot memintanya.

Keluarlah dari kamar kerja Anda, bergaullah dengan kehidupan, untuk kemudian kita kembali ke kamar dengan membawa oleh--oleh berupa ilham dalam jumlah yang kita butuhkan.

Itu yang membedakan antara seorang penulis dengan seorang pengkhayal.(photo by wahyu hs)
Baca selengkapnya...