Setelah lima seasons menulis serial "Lorong Waktu" (sejak 1999-2004), saya merasakan pengalaman baru dengan serial "Demi Masa" (RCTI, 2005, Deddy Mizwar, Teddy Syach). Masih dalam koridor sinetron relijius, tapi ada nuansa lain yang membuat saya bergairah, yaitu dengan adanya plot cinta segiempat antara tokoh RAFI (Teddy Syach) dengan tiga cewek cantik: ALMAS (antusias, pencemburu, lifestyle oriented, dimainkan dengan sangat baik oleh Vita Mariana), RIMA (terpelajar, pemalu, pemendam "luka dalam", tampil cantik dengan permainan Endang Wihartati), dan NURI (tomboy cakep penjual gado-gado, ekstrovert, berani bersaing dengan orang dari lain kelas, dihidupkan oleh bakat Yunita David).
Mulanya saya agak was-was menampilkan plot percintaan ini, mengingat sinetron ini berada di koridor Islami. Maka, dengan ikhlas saya meniadakan adegan-adegan pacaran konvensional, misalnya berpelukan bagi non-muhrim. Sebagai gantinya, unsur "kontak fisik" itu saya ganti dengan permainan dialektika sederhana seputar perasaan cinta di antara mereka berempat, yang menurut saya tidak kalah menariknya. Saya masukkan juga tokoh bocah kecil bernama ZAKI (diperankan dengan oke oleh Aldi de Barros) yang berfungsi sebagai penghias adegan atau "pelumas" cerita disana-sini.
Sebelum diproduksi, banyak pihak yang mempertanyakan ketiadaan tokoh antagonis dalam naskah saya ini. Memang saya sengaja. Saya sedang bereksperimen dengan sebuah serial tanpa "tokoh manusia jahat". Sebagai gantinya, yang bersifat "antagonis" itu adalah SITUASI dan KONDISI yang dihadapi para tokohnya: kemiskinan, power syndrome, kebodohan, kelemahan iman, pilihan yang sulit, dan sejenisnya. Ternyata, konsep ini memberikan pengalaman menulis yang sangat menantang. Alhamdulillah, hasilnya so far so good. Serial "Demi Masa" mampu merebut 20% share rata-rata penonton di slot jam 5 sore selama Ramadhan 2005 ini, bersaing ketat dengan "Mutiara Hati" (SCTV, rata-rata 25% share-nya). Komentar para penonton yang masuk ke email demigis@yahoo.com pun menunjukkan antusiasme yang cukup tinggi terhadap cerita setiap episodenya. Dan belum ada satu pun yang menanyakan ada-tidaknya "tokoh antagonis" dalam plot utama "Demi Masa". Mereka lebih peduli kepada pilihan sulit yang dihadapi oleh Rafi.
Sejauh ini saya cukup bangga dengan hasil "Demi MAsa". Makasih banyak buat dua sutradara yang sudah menangani cerita saya dengan baik sekali, yakni Pak Oman Haeruman dan Ida Baron. Juga thanks berat buat produser sekaligus pemain utama, Deddy Mizwar, yang selalu tampil brilian di setiap episode. Tak lupa respek saya terhadap keterlibatan Raslina Rasidin di sela kesibukannya sebagai salah satu artis laris di berbagai produksi. Tokoh "Bu Haji" yang dimainkannya tampil sangat cantik dan Melayu banget.
Film atau sinetron memang tak pernah menjadi karya satu orang saja. Film atau sinetron adalah karya kolaborasi antara penulis, produser, sutradara, pemain, dan kru. Yang tidak bisa dikolaborasikan hanya honornya. Hehehe...
Baca selengkapnya...